Sekolah Dasar adalah jenjang pertama yang saya masuki di pendidikan pertama saya, pada saat itu di tahun 2000, meskipun pada zaman saya sudah banyak teman-teman yang mengawali pendidikannya di TK(Taman Kanak-kanak). Langsung dari SD bukan berarti kita tidak berbekal apapun dan belum belajar apapun, karena saya sendiri dibekali dari rumah dan diajarkan huruf-huruf alfabet dan cara membaca secara perlahan hitung-hitung sebagai modal awal sebelum masuk SD supaya tidak begitu memalukan ketika masuk ke sekolah. Dan benar saja kenyataannya ternyata peran orang rumah memang begitu penting untuk membentuk saya menjadi murid yang siap belajar dan terjun kesekolah dengan bekal ilmu dasar yang cukup.
Pembentukan karakter telah dimulai dan jadilah saya seorang murid atau pelajar yang mengenyam bangku sekolahan yang resmi menggunakan seragam sekolah merah putih, saya dituntut harus belajar dan belajar dimana setiap harinya selalu disodorkan PR, PR, dan PR, ya pekerjaan rumah yang ternyata artinya pelajaran sekolah yang harus dikerjakan dan diselesaikan dirumah. Perasaan malas, nakal dan perbuatan menjengkelkan lainnya sudah pasti ada dan merasa wajar bagi kita saat ini karena pada masa itu masih anak-anak dan banyak menemukan hal-hal baru dan teman baru yang kita ikuti tidak tau mana yang baik dan mana yang buruk.
Pada tahun 2006 dan genap enam tahun tanpa tinggal kelas saya pun harus menyudahi masa sekolah dasar dan harus melanjutkan ke tingkat SMP(Sekolah Menengah Pertama). Saya rasa enam tahun sudah merasa cukup lah untuk bereksperimen di sekolah dasar walaupun sekarang tentu masih belum terlupakan dan terkadang ingin kembali merasakan saat itu dan bisa jadi masih merasa masa kanak-kanak ini masih belum cukup dan belum puas tetapi masa sekolah bisa saja menjadi hal yang cukup membosankan bila terlalu lama lulus.
Pada pertengahan tahun 2006 SMPN (Sekolah Menengah Pertama Negeri) menjadi pilihan untuk pelanjutkan pendidikan, ya walaupun sebenarnya lebih kepada pilihan orangtua. Sekolah baru, baju baru dan teman-teman baru, tetapi ini lebih tinggi lagi tingkatnya dan jumlah siswanya juga lebih banyak dan asal teman-teman dari daerah yang berbeda-beda dan cukup jauh membuat wawasan saya semakin terbuka mengenai daerah-daerah dan orang-orang disekitar saya. Masa puber pun dimulai disini yang sudah memulai eksperimen baru sebagaimana layaknya anak SMP lainnya pada masa seragam biru putih ini. Karakter egois mulai terbentuk disini, dimana perasaan hebat dan selalu benar dan jauh dari aturan sudah tertanam dibenak masa puber, teman-teman dan lingkungan sekitar-lah yang sangat besar mempengaruhi karakter dan pembentukan sifat tersebut. Inilah aku, aku lakukan apapun yang aku mau tidak perduli itu benar ataupun salah, begitulah hati bicara dengan penuntun hati yang mau menang sendiri, dan apalagi bila berkumpul dengan teman-teman yang berpikiran sama, ya sudahlah semakin kuat saja perasaan itu jika tidak ada yang membenarkan.
Aku rasa pengalaman SMP ini cukup mengesankan, banyak cerita yang harus dikenang, karena letak sekolah yang cukup jauh dari rumah dan harus ditempuh dengan sepeda dan pergi berangkat dan pulang sekolah diiringi oleh teman-teman dekat satu kampung dan juga beberapa diantaranya teman sekelasku, dalam perjalanan pergi maupun pulang selalu ada peristiwa yang harus diceritakan dijalan sambil mengayuh sepeda, entah itu pengalaman waktu dikelas, lingkungan sekolah atau cerita film anime/kartun favorit kami. Jauhnya jarak tak pernah kami rasakan lelah karena kebersamaan selalu menyertai kami dengan canda dan tawa, serta marah dan jengkel juga pasti turut serta sebagai bumbu penyedapnya.
Tiga tahun terlalu singkat rasanya untuk memuaskan hasrat melalui masa-masa SMP yang menyenangkan itu, dan akhirnya ditahun 2009 pun mau tidak mau harus meninggalkan masa SMP dan harus berlanjut ke SMA (Sekolah Menengah Atas).
Masa putih abu-abu, begitulah semua kalangan anak muda indonesia menyebutnya, ini biasanya yang ditunggu-tunggu, karena disinilah akhir dari kata sekolah, pergejolakan kaula muda, bermacam-macam bumbu akan dirasakan pada masa ini. Masa puber berada dipuncaknya untuk mencari jati diri siapakah aku sebenarnya. Mungkin perasaan egois bisa melebihi pada masa SMP, tetapi bisa jadi malah tumbuh perasaan dewasa dan ada rasa pertimbangan. Pada saat itu pertengahan tahun 2009 mau memasuki 2010, agak sedikit merasa jenuh awalnya karena penuh dengan peraturan berbeda dengan waktu di SMP sebelumnya, dan aku berpikir inikah SMAN (Sekolah Menengah Atas Negeri) yang sebenarnya? Penuh aturan dan membosankan?. Aku harus membiasakan diri dengan sekolah baru ini, terkadang aku masih merindukan teman-teman akrab sewaktu SMP dulu dan pernah pula aku ingin pindah sekolah untuk gabung disekolah mereka, tetapi jika dipikir-pikir lagi, aku masuk di SMA negeri ini juga tidak mudah, ada seleksinya juga dan itu tergantung pada NIM hasil sekolah semasa SMP, meskipun aku berasal dari kabupaten yang berbeda dan tidak memperoleh tambahan nilai untuk seleksi, tetapi syukurnya aku lulus dan diterima disekolah ini, mungkin beginilah peraturan SMAN 1 yang hanya satu-satunya SMA Negeri di daerahku
Setahun lebih berlalu aku masih tetap merasakan hal yang sama, jenuh, dan mungkin aku perlu sesuatu hal yang baru. Dan benar saja memasuki tahun kedua aku sudah membiasakan diri dan mendapat teman akrab dan dekat. Jauh dari pengalamanku sebelumnya, kini aku aktif ikut organisasi OSIS dan majelis ta’lim agama islam (anak mushala) di sekolah. Disitulah aku belajar banyak hal dan pengalaman yang ku dapat tidak sia-sia, lelah memang terasa, tetapi hasilnya mampu menjawab itu semua. Tidak jarang kami membuat acara-acara sekolah baik itu acara kegiatan OSIS maupun majelis ta’lim agama islam yang acaranya heboh dan sukses, aku merasa itulah masa kejayaan kami ketika kami menduduki organisasi disekolah yang kini sekolah itu sudah jarang terdengar ada acara heboh yang diselenggarakan dan terdengar redup selepas kami lulus dan meninggalkan sekolah itu.
Tiga tahun mengalami SMA apakah cukup? Aku rasa jawabannya tidak, karena sudah kukatakan di awal tadi, masa SMA adalah masa-masa terakhir sekolah jadi sangat-sangat-lah sulit untuk dilupakan dan rasanya selalu saja ingin mengulang masa itu.
Selepas dari SMA adalah suatu keputusan yang sulit dan harus dipikirkan dengan matang, melihat kondisi pada waktu itu aku hanya berpikir untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta sambil bekerja di paruh hari untuk membiayai kuliahku, tetapi orangtua dan keluarga berkehendak lain, malah ingin aku masuk menjadi aparat negara TNI, dan aku pikir itu suatu pekerjaan yang sangat membosankan mengingat aku adalah orang yang tidak begitu disiplin dan rajin berolahraga dan lebih parah lagi aku susah diatur. Pernah ada tawaran sebelumnya dari pihak sekolah untuk mendaftar di perguruan tinggi negeri, tetapi aku tidak menghiraukannya karena aku berpikir akan sulit mencari pekerjaan paruh hari. Ternyata tawaran itu adalah beasiswa dari pemerintah untuk masuk ke perguruan tinggi negeri pilihannya, untuk kesekian kalinya aku ditawarkan tetapi aku tidak ikut mendaftar dan pada akhirnya aku di panggil pihak sekolah untuk ditanyai alasan mengapa aku tidak mau ikut, dan ternyata perundingan itu berakhir memaksaku untuk ikut dan mendaftar, jelas ini bukan diskusi namanya, ini sepihak dan memojokkanku. Bingung dengan keputusan final ini akhirnya aku menghubungi orangtua untuk meminta izin apakah aku boleh mencoba untuk mendapatkan beasiswa perguruan tinggi negeri? Ternyata jawabannya terserah dan akhirnya aku mengatakan “iya” saja dan akupun segera ikut didaftarkan, tentu saja mengenai hal berkas ini itu sungguh sangat merepotkanku, semua itu kuserahkan oleh guru dan temanku yang memang peduli akan hal itu. Setelah melalui satu dua bulan libur karena sudah menyelesaikan studi di sekolah dan menunggu kepastian tujuan hidup mau kemana, ternyata datanglah kabar yang tak pernah aku pikirkan dan harapkan sebelumnya, ternyata aku lulus dan di terima di salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatera Utara, yaitu Universitas Sumatera Utara sesuai pilihan pertamaku pada waktu pendaftaran waktu itu, alasan aku mengambil kampus ini sebagai pilihan karena kampus ini salah satu kampus negeri terdekat dan terbesar yang masih disekitar daerah kota Medan yang tidak begitu jauh dari asal tempat tinggalku, dari pada aku pilih diluar kota atau luar pulau pastinya sangat jauh dan merepotkan apalagi aku bukanlah orang yang begitu antusias mengenai hal ini pada wakt itu, dan satu lagi alasan kenapa aku memilih kampus ini, karena aku tidak mau menjadi guru, inilah yang ada dibenakku selama ini, karena perguruan tinggi negeri selain USU di Sumatera ya UNIMED(Univesitas Negeri Medan) yang tujuan utamanya kampus itu adalah untuk mencetak mahasiswa menjadi calon guru. Sampai saai ini tulisan ini dibuat aku masih menjalankan studi sebagai mahasiswa di Universitas Sumatera Utara.
Satu hal pelajaran yang dapat ku ambil adalah, Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan, rencana-Nya begitu indah melampaui apa yang kita rencanakan. Meskipun sebagian besar kisah perjalanan pendidikanku jauh dari apa yang aku rencanakan tetapi ternyata setelah dijalani selalu saja ada hal yang membuka mata untuk bisa menuju kesuksesan hidup.






0 komentar:
Posting Komentar